Friday, 16 May 2014

Pengalaman Tinggal di Apartment

Pengalaman Tinggal di Apartment
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kami akan merasakan tinggal di apartment.  Selain bagi kami membeli atau menyewa apartment itu pasti mahal, juga ada beberapa aktivitas yang tidak bisa dilakukan di apartment, contohnya berkebun/menanam bunga.  Sebenarnya bisa juga sih menanam bunga di pot, namun tentunya sangat terbatas.
Sejak suami saya dipindahkan ke luar Jakarta, otomatis rumah dinas yang selama 5 tahun ini kami tempati harus kami tinggalkan.  Kami sempat menjadi ‘penghuni gelap’ di rumah dinas ini selama 1.5 tahun sejak suami saya dipindahkan ke luar kota 1.5 tahun terakhir ini.  Namun karena sudah didesak untuk keluar, kami pun kasak kusuk mencari rumah.  Kami bukannya tidak mau keluar dari rumah dinas, namun saya masih takut untuk tinggal di lingkungan lain.  Kalau di komplek rumah dinas kan tetangga adalah orang kantor semua jadi sudah seperti saudara.  Komplek pun dijaga oleh satpam dan hanya ada 1 gate yang bisa dillewati mobil.
Sebenarnya rumah yang kami taksir sudah dapat namun baru bisa kami tempati sekitar bulan Mei karena rumah tersebut masih harus direnovasi.  Jaraknya sih hanya  sekitar 3 km dari rumah dinas namun traffic menuju ke komplek itu sangat macet saat jam berangkat dan pulang kerja.  Kasihan anak saya Falya yang berangkat dan pulang sekolah dengan metromini.  Untungnya jalan menuju komplek tersebut sementara diperlebar namun diperkirakan akhir tahun ini baru rampung.  Oleh karenanya saya belum berkeinginan untuk tinggal di sana.
Awal Januari setelah Liburan tahun baru, malam-malam pap menelpon saya  dan meminta saya segera mencari rumah kontrakan.  Aduhh panic deh karena saya tidak tahu harus tinggal dimana terutama lingkungan mana yang aman buat kami.  Yang terpikir adalah mencari kamar kost.  Segera saya membuka laptop dan browsing mencari rumah kost sekitar komplek rumah dinas.  Kami sengaja mencari sekitar rumah dinas agar gampang jika ada apa-apa yang kami  butuhkan masih lumayan dekat dengan teman-teman kantor suami.  Selain itu akses ke sekolah kedua anak saya juga lebih gampang.
Tanpa sengaja saat browsing kami menemukan situs sewa apartemen yang berada dekat komplek.  Harganya cukup mahal sih bagi kami untuk ukuran unit 35-37m2 (1 kamar dan 1 kamar mandi), hampir sama sewanya bila kami menyewa rumah sekitar komplek dengan 4 kamar namun sebenarnya terhitung murah untuk suatu apartement.  Yupp apartment ini memang apartment kelas menengah, bukan yang lux.   Dengan alasan keamanan di apartement lebih ‘terjamin’ akhirnya kami memilih apartement.  Selain itu letaknya di pinggir jalan sehingga akses Falya naik metromini lebih gampang.  Hanya berjarak 200m dari komplek lama dan jarak 200m dari sekolah Khayra.  Di lantai bawah apartment juga ada Supermarket Superindo, jadi kalo membutuhkan sesuatu lebih mudah. 
Hari Sabtu saat papi ke Jakarta, kami segera ke apartment dan bertemu dengan marketing yang sebelumnya sudah kami hubungi.  Ternyata unit yang kami taksir sudah tersewa sehari sebelum kami datang.  Beberapa unit lain yang ditawarkan oleh marketing pertama ternyata tidak cocok (mahal padahal unfurnished).  Sempat lemes kami berdua sambil duduk di lobby depan apartment.  Tiba-tiba saya ingat bahwa saya masih punya 1 lagi number contact marketing yang lain apartment ini.  Segera saya menelponnya dan Alhamdulillah sang marketing langsung datang dan menunjukkan unit yang akan disewa.  Saat ditunjukkan unitnya kami langsung suka.  Dengan uang sewa Rp.2.5jt/bulan (termasuk service charge dan parkir mobil) untuk luas unit 35m2 full furnished kami rasa cukup terjangkau untuk ukuran apartment.  Minimal sewa 6 bulan ditambah deposit dan semuanya harus dibayar di muka.  Transaksi segera kami lakukan hari itu juga.  Legaaaa....
Sepulang kami dari Bali, besoknya saya langsung mengangkut baju ke apartment. Berkali-kali saya harus bolak balik memindahkan baju, buku sedikit dan peralatan dapur.  Seminimal mungkin barang saya bawa ke sana.  Lha iyalah mau ditaruh di mana dalam ruangan sekecil itu?
Beberapa hari menjalani hari hari di apartment semakin membuat saya dan anak-anak kerasan.  Ternyata menjalani hidup dengan ‘minimalis’ selain hemat uang juga hemat waktu.  Dengan hanya membawa baju kurang lebih separuh dari yang ada, peralatan dapur hanya sekitar 1/4 ternyata kami tetap bisa menjalani hari-hari yang nyaris tidak ada perbedaan.  Bahkan sangat praktis dan simple.  Saya bisa masak sambil mengajari Khayra main piano, atau sambil mengajari pelajaran.  Bahkan sambil menunggu masakan atau gorengan matang, saya bisa setrika dan mendengarkan Khayra main piano.  Koq bisa?  Yah karena semua aktifitas itu masak, nonton, setrika, dan piano berada di ruang yang sama.  Kamar mandi pun di samping dapur dan langsung terlihat dari ruang TV.  Jadi kalau Khayra lagi mandi sendiri bisa langsung terlihat dari dapur atau ruang TV.  
Waktu masih di rumah dinas, karena rumahnya gede (sekitar 250m2), kalau pagi super heboh deh saya.  Jarak antara dapur-kamar sekitar 10 m, sama halnya jarak dapur-kamar mandi dan kamar mandi-kamar.  Saya tidak bisa meninggalkan dapur sebelum masakan matang karena sifat pelupa saya, takut gosong.  Hadeuuhhh benar-benar olah raga pagi lari ke sana kemari.  Setelah masak, barulah saya rehat sejenak di kamar sambil suapin Khayra.  Biasanya tiap pagi kan jadwal latihan piano, jadi saya harus menggeret Khayra yang sering malas-malasan ke ruang tengah untuk latihan.  Untungnya sekolah Khayra dimulai pk 07:45, itu pun masih dekat dengan rumah jadi bisa mepet-mepet berangkatnya.   Setelah Khayra berangkat sekolah barulah saya bisa istirahat.  Kalau di apartment paling lambat jam 7:15 Khayra sudah siap berangkat sekolah.  Setrikaan pun jarang menggunung.  Selain tidak ada tempat, juga bisa setrikaan sambil melakukan aktivitas lain.
Di apartement juga sudah ada teknisi  yang standby di basement, sehingga jika ada sesuatu yang bermasalah seputar  unit/rumah misalnya keran bocor, pintu terkunci, atau jendela rusak, tinggal telepon ke teknisi deh.  Asyik kannn????  Swimming pool dan Gym juga tersedia dan gratis untuk penghuni..
Sayangnya , di apartment yang saya sewa ini karena kecil, jadi tidak ada ruang tamu.  Bayangkan luas 1 unit apartemen ini sama dengan luas kamar utama+kamar mandi dalam yang kami tempati di rumah dinas.  Jika ada tamu ya ketemu di lobby bawah yang hanya ada 2 set kursi tamu untuk 300 penghuni!.  Masuk ke unit ini pun pertama kali yang ditemui adalah dapur digabung dengan ruang makan!  So bagi yang ingin bertandang ke unit ini untuk ketemu saya, mohon maaf harus infokan terlebih dahulu ya...  Kan ya ga lucu, tiba-tiba datang dan tamunya harus masuk melewati dapur yang you know-lah biasanya berantakan...
Namun apapun itu tetap kami syukuri.  Saya hanya merasa bersalah kepada kedua anak saya karena mereka jadi tidak bebas bermain seperti waktu tinggal di komplek rumah dinas.  Alhamdulillah anak-anak mengerti.   Saya katakan kepada anak saya, katanya semua mau kuliah di London.  Biasanya anak kuliahan tinggalnya di apartemen.  Nah sekarang ini masa-masa belajar yaa...sekaligus bisa seolah-olah merasakan sudah tinggal di apartement di luar negeri.   Inshaa Allah cita-cita kalian terkabul.  Bukankah kegelapan yang paling pekat adalah saat menjelang dinihari?  Setelah gelap pekat, datanglah pagi yang cerahhhh.  Bukankah pelangi yang indah selalu didahului dengan hujan???